Diskusi Buku : Manajemen Sekolah Efektif

Mendapat informasi sebuah acara diskusi buku di linimasa yang berasal dari akun Twitter official Media Indonesia @MIdotcom dua hari yang lalu saya langsung menyimpan, me-Retweet dan meneruskan informasinya ke beberapa orang yang saya yakini tertarik dengannya.

Singkat cerita, saya langsung mendapat respon singkat dari Om Jay, Founder Komunitas Sejuta Guru Ngeblog, yang juga Guru dan penulis buku. “Yuk kita ikut” begitulah balasan singkat messanger beliau. Sayapun menyambut ajakan itu dan jadilah kami mendaftar lalu hari ini meluncur ke kompleks Metro TV untuk sampai dilokasi sesuai waktu.

Acara diskusi cukup menarik, narasumber sangat berkompeten, peserta memenuhi ruangan terdiri dari berbagai latar belakang, setelah saya menyadari ternyata peserta sebagian besar adalah para pembaca Harian Media Indonesia.
Ada banyak hal yang saya tangkap dari diskusi dan membaca sekilas buku yang sedang dibahas ini, tapi sesuai topik saya mencatat 7 (tujuh) hal penting dalam mewujudkan manajemen sekolah yang efektif. Tujuh hal ini sekaligus merupakan langkah praktis yang diterapkan secara langsung di Sekolah Sukma Bangsa.

Langkah-langkah tersebut adalah :

1. Membangun Visi, Misi dan Budaya Sekolah.
Semua stakeholder sekolah harus mengetahui, hafal dan memahami dengan utuh Visi yang ditetapkan sehingga semua akan mudah bersinergi mewujudkannya.
2. Membangun Sistem Kerja atau cetak biru (blueprint)
Membangun sistem berarti membuat rule yang jelas, sistem komunikasi dan evaluasi sekolah.
3. Membangun Tim Kerja
Untuk menjalankan sistem kerja mencapai visi misi sekolah yang efektif dibutuhkan tim kerja yang kompeten dan profesional.
4. Membangun Sistem Pembiayaan
RAPBS yang baik dan melibatkan semua stakeholder dalam penyusunannya membuat semua orang menyadari peruntukan dana pengembangan sekolah. Hal ini menurut saya bermuara pada akuntabilitas dan efektifitas penyerapan anggaran untuk hal-hal yang sesuai kebutuhan. Setiap pengeluaran terdokumentasi rapi bahkan ada proposalnya.
5. Supervisi

Pengawasan dilakukan untuk memastikan sekolah berjalan sesuai komitmen blueprint dan statuta.

6. Membangun Kerjasama
Dalam hal ini yang menarik adalah Sekolah Sukma Bangsa menerapkan filosofi Sekolah Kolaboratif yang membuka diri untuk bekerja sama dengan sekolah lain bukan bersaing dengan sekolah lain (Competition School) yang menurut Pak Tilaar merupakan salah satu yang bisa menghancurkan pendidikan karena antar sekolah saling berkompetisi satu sama lain untuk menjadi favorit bahkan tidak jarang menghalalkan segala cara, termasuk kecurangan dalam UN.
Sekolah Sukma Bangsa justru memiliki banyak mitra yang disebut dengan Sekolah Sahabat Sukma (S3). Hal lain yang menarik diterapkan adalah Teacher Exchange, dan ini terbukti efektif.

Ada banyak bentuk kerjasama pengembangan sekolah yang bisa dilakukan.

7. Mengevaluasi Manajemen

Langkah tersebut di atas sebenarnya dipaparkan secara detail dan sistematis dalam buku “Manajemen Sekolah Efektif” oleh Ahmad Baedowi, dkk, dan penjabaran akan lebih konfrehensif akan didapat bila di-combine dengan tiga buku lainnya dari penulis yang sama yaitu “Manejemen Konflik Berbasis Sekolah“, “Pengembangan Kapasitas Guru” dan “Sistem Informasi Sekolah“.

Dan Alhamdulillah, saat menghadiri acara diskusi saya mendapatkan semua buku itu. Tidak tanggung-tanggung, ada 7 buku sekaligus 🙂

Berikut foto-foto dokumentasi ketika mengikuti acara.

 

 

Penukaran Uang Logam di Monas

Beberapa foto di atas saya ambil seputaran kawasan “Lenggang Jakarta”, monas tanggal 24 Juni 2015.
Mendapat informasi dari media online bahwa ada layanan penukaran uang oleh Bank Indonesia untuk masyarakat, saya menjadi tertarik untuk datang melihat.
Kesengajaan saya untuk datang ke sana secara langsung sekaligus karena ingin ikut menukarkan sedikit uang Logam yang saya “koleksi”. Iya, saya termasuk orang yang kurang suka membawa yang Logam di kantong celana. Selain suara gemericing yang bikin risih, juga bobotnya yang berat yang kurang saya sukai. Ya, kalau cuma sekeping dua keping tidak masalah, membawa dengan banyak keping itu yang menjadi masalah serius pada penambahan beban, hehehe…

Cerita saya saat penukaran di monas

Satu tahun terakhir, Uang Logam berbagai nilai nominal pecahan saya “koleksi” dalam sebuah “Bakul Bambu” ukuran mini. Nah, sewaktu penukaran di monas Bakul ini saya bawa beserta isinya yang akan saya tukarkan.
Karena saya datang lebih pagi, kawasan monas masih belum banyak pengunjungnya. Di lapangan Lenggang Jakarta terlihat empat Mobil dari Bank yang berbeda, berjarak sekitar 30 meteran depan jejeran Mobil itu ada tenda dan kursi yang ditempati oleh masyarakat yang antri untuk penukaran uang.
Memasuki area ini saya berpapasan dengan Pak Polisi yang menenteng senjata lalu terjadi dialog singkat dan saya diarahkan ke tenda nomor dua dari kiri, di depannya terlihat Mobil Bank Syariah Mandiri. Sampai di sini saya bertemu lagi dengan Pak Polisi yang lain, juga dengan senjata ditangannya. Setelah berbincang sebentar, saya diarahkan bertanya langsung dengan Pegawai BI yang berdiri tepat di depan kami.
“Maaf Pak, Saya tidak melihat antrian penukaran uang logam apakah masih bisa?” Tanya saya membuka pembicaraan.
“Iya dek, masih bisa. Tapi ini khusus antrian penukaran uang kertas. Untuk penukaran uang Logam, coba ke saung/pondok bagian belakang sana” kata bapak yang dari BI sambil mengarahkan saya.
Saya langsung menuju ke arah yang ditunjukkan oleh bapak tadi dan ternyata benar. Saya tidak perlu antri terlalu lama karena langsung dipersilakan oleh petugas.

“Selamat pagi, pak. Ada yang bisa kami bantu?” Sambut salah seorang petugas dengan ramah.
“Iya, Selamat pagi. Saya mau tukar uang logam” Jawab saya singkat.

“Mohon maaf pak, uang logamnya harus dari masyarakat” ” jawab beliau.

“Iya, saya kan masyarakat juga”, jawab saya sambil senyum ☺

“Oh, Bapak bawa uang logamnya?” Tanyanya lagi. Mungkin kurang yakin dengan “penampilan masyarakat” saya. 😆

“Iya dong, ini….” jawab saya meyakinkan bahwa saya memang “masyarakat”, sambil menyerahkan “Bakul Bambu” berisi uang logam koleksi.

“Apaan ini…?” Tanyanya setengah kaget 😲 melihat bakul yang saya sodorin.

“Ini uang logam yang mau saya tukarkan” jawab saya sambil membuka bakul.

Melihat isi bakul benar-benar uang logam, baru bapak ini lega 😌 dan senyum-senyum ☺ sendiri.

“Hehee,… Maaf pak, ini celengan saya” saya menambahkan.

“Baik, mari kita hitung bersama” ajak bapak-bapak yang di depan saya.

Sambil menghitung, saya menanyakan maksud dari pengumpulan uang logam ini. Sebab Bank menerima semua jenis uang logam yang berlaku baik yang masih baru maupun yang sudah lama.

Kamipun menghitung dan memisahkan sesuai nominalnya. Setelah penghitungan selesai 🏁, sayapun menerima tukarannya dalam bentuk pecahan uang kertas baru dengan jumlah nominal yang sama. 😤

Walau agak sedikit kecewa, dari informasi yang saya baca, uang logam akan ditukarkan dengan kartu uang elektronik (e-money), karena kehabisan saya hanya dapat bagian uang kertas saja.

 

 

 

Belajar dari Sepakbola Spanyol

Beberapa hari lalu saya membaca artikel yang mengabarkan terdegradasinya sebuah klub di Spanyol. Hukuman degradasi atau turun kasta pada kompetisi domestik terjadi karena klub dianggap melakukan pelanggaran serius yaitu menunggak pajak.

http://m.detik.com/sepakbola/read/2015/06/05/183741/2934799/75/tak-lunasi-tunggakan-pajak-elche-dihukum-degradasi

Liga yang mengaku pro seharusnya begini, klub-klub harus juga professional, taat pada hukum negara, federasinya bagus dan punya regulasi yang jelas tidak arogan berlindung dengan statuta FIFA agar pemerintah tidak intervensi (hukum pemerintah tdk bisa menyentuh federasi dan klub). Ternyata FIFA tidak menjatuhkan sanksi lho…

Lihatlah RFEF (federasi sepakbola spanyol)  tetap taat pada aturan pemerintah tempat kompetisi mereka adakan, kemudian lihatlah prestasi timnas spanyol dikancah eropa dan dunia, juara eropa beruntun diraih, juara dunia direngkuh 2010. Lihat pula prestasi klub-klub liga pro yang menguasai eropa, ada Barcelona yang baru saja merai gelar juara UCL musim ini (2014-2015) dengan manis, mengalahkan para juara-juara liga domestik sekelas Ajax, Apoel, PSG, Man City, FC Bayern dan Juventus.  Ada Real Madrid juara UCL musim lalu yang berlaga di partai puncak dengan rival se-kotanya Atletico Madrid. Kemudian ada Sevilla yang juara Liga Eropa dua musim berturut-turut.
Selain itu, para mantan pemain la liga yang hijrah ke kompetisi atau liga lain justru bersinar dan menjadi pemain kunci untuk klubnya. Bahkan menjadi andalan timnas negaranya masing-masing.

Begitu muncul masalah ketimpangan hak siar baru-baru ini bisa selesai dengan cepat tanpa harus mogok kompetisi. Pemerintah, Federasi, Klub dan Asosiasi Pemain duduk bersama selesaikan masalah. Kompetisi tetap berjalan, lihatlah potensi ekonominya.

Jadi, kalau ada di suatu negara dimana klub-klub tidak bayar pajak bertahun-tahun, tidak bayar dan selalu menunggak  gaji pemainnya sampai ada yang meninggal dunia. Klub belum memenuhi syarat untuk lisensi professional.
Hal ini malah dipertahankan oleh Federasi dan penyelenggara liga. Kita sebut apa ?

Kompetisi bergulir secara “ekslusif” bertahun-tahun tanpa bisa disentuh oleh aturan, regulasi pemerintah dan aneh juaranya belum menerima hadiah yang menjadi haknya berbulan-bulan setelah kompetisi selesai.  Kompetisi yang bertahun-tahun itu pula tidak memberikan pengaruh yang signifikan pada kualitas timnas. Jangankan untuk piala dunia, ditingkat regional saja masih tertatih-tatih.
Ditingkat federasi sering terjadi kisruh, gontok-gontokan saling klaim berhak memimpin.  Sampai-sampai pernah dualisme dan membuat timnas tandingan. 🙂

Saat pemerintah mulai masuk melalui regulasinya untuk mengingatkan agar sebelum kompetisi berjalan, klub harus memenuhi syarat lisensi professional, taat pajak, harus melunasi gaji pemain, kompetisi yang menjunjung tinggi sportifitas (fair play), pemain dan pelatih asing harus melalui prosedur imigrasi yang benar. Ini semua agar kompetisi bisa berjalan dengan baik. Karena “Eksklusifitasnya” Federasi menganggap pemerintah tempat kompetisi mereka selenggarakan telah melakukan intervensi dan melanggar statuta FIFA. Statuta FIFA menjadi tameng. Kompetisi diberhentikan, klub dan pemain terlunta bahkan ada klub yang membubarkan diri. Rakyat malah menuding pemerintahnya yang salah.

#catatan yulefdian, 07/06/2015

eberap

Silat, Wayang, Jiwa dan Mahakarya Indonesia

Indonesia adalah negeri yang kaya akan nilai-nilai. Nilai-nilai itu tumbuh menjadi sesuatu yang hebat dan luhur melandasi keteguhan dan kegagahan Jiwa Indonesia.

Ada empat nilai luhur yang teramalkan dalam kehidupan yang membangun mahakarya Indonesia yaitu Kegigihan, gotong royong, kesabaran, rendah hati.

Tiga nara sumber yang menjadi panelis hari ini. Bang JJ Rizal sebagai Sejarawan, Kang Yayan Ruhian (Mad Dog) sebagai praktisi Pencak Silat Indonesia, aktor film laga. Mas Nanang Hape sebagai Dalang Wayang Urban.

Silat muncul berjaya mulai abad ke-7 di Indonesia. Pada kemunculannya filosofi silat adalah “Lubuk akal lautan budi”

Dalam silat ada nilai kerendahan hati yang menempati tempat yang istimewa.
Silat tidak hanya olah raga, tapi juga olah budi. Silat berperan dalam menumbuhkan karakter yang tangguh. Begitu Bang JJ Rizal memaparkan nilai luhur dari pencak silat.

Menurut Kang Yayan sebagai praktisi memaparkan bahwa dalam Pencak Silat ada unsur beladiri, olah raga dan seni. Nilai luhur, nilai bangsa, nilai pribadi adalah nilai yang tidak ditemukan pada beladiri lain selain silat. Untuk melengkapi keterangannya, beliau mengajak para hadirin menyaksikan demonstrasi gerakan silat sambil menjelaskan filosofi tiap gerakannya.

Mas Nanang sebagai dalang menjelaskan bahwa dalam wayang selain mengandung nilai pendidikan juga ada nilai luhur kerendahan hati dan kesabaran yang bisa kita tangka bila kita memperhatikan mulai dari proses membuat wayang yang penuh dengan nilai senirupa yang tinggi sampai pada pementasan dan pemilihan lakon wayang.

Menarik sekali dialog Mahakarya Indonesia kali ini yang diadakan di Kopicini Hotel Kartika Chandra. Ada banyak hal yang terungkap dan membuat kita bangga akan Indonesia setelah mendengarkan pemaparan narasumber.

Cara Sederhana Memahami Komputasi Awan

Teknologi komputasi yang sedang berkembang saat ini adalah Komputasi Awan (Cloud Computing). Teknologi ini memindahkan resources yang mendukung atau menjalankan perangkat lunak komputer dan infrastruktur kepada pihak lain atau lokasi lain yang terkelola dengan baik. Tiga jenis cloud computing saat ini :
– SaaS > Software as a Service
– PaaS > Platform as a Service
– IaaS > Infrastructure as a Sevice

Google Drive adalah salah satu contohnya, walau masih terbilang masih belum full, tapi cukup untuk sekedar memahami konsep dan prosesnya, saya menyebutnya dengan tool transisi yang disiapkan google secara gratis untuk user agar mendapatkan experience menjelang berlakunya era cloud yang sebenarnya.
Contoh lain yang hampir mirip dengan Google Drive adalah One Drive milik Microsoft. Pertama kali saya menggunakannya saat masih bernama SkyDrive.
Sama halnya dengan Google Drive, dengan One Drive kita bisa mencoba menggunakan aplikasi perkantoran yang tersedia seperti Word, excel, powerpoint.

Microsoft sendiri saat ini sudah meluncurkan layanan yang murni berbasis Cloud berupa Office 365 dan Windows Azure.

Dengan menggunakan layanan seperti Google Drive, kita sudah bisa memahami dan merasakan seperti apa teknologi Cloud Computing sesungguhnya dimasa depan.

Posted from WordPress for Windows Phone

Pengalaman Pertama Ikut Casting

Assalamualaikum Sahabat,

Bila dihitung sampai hari ini, 1 April 2015 berarti tepat satu bulan lalu saya secara mendadak mengikuti casting undangan dari salah satu forum yang saya ikuti, icity.indosat.com. Sebagai pengguna kartu Mentari, yaitu kartu seluler milik operator Indosat saya dinyatakan memenuhi salah satu syarat mengikuti casting tersebut.

Di balik papan ini saya sedang action 🙂

Alasan utama dan pertama saya menyambut undangan casting ini murni dari kekaguman saya terhadap tokoh utama yang diangkat dalam film ini yaitu Bapak Mohammad Hatta, sang proklamator. Bersyukur sekali ada yang mau membuat film tentang beliau.

Selain sangat mengagumi Bung Hatta, saya juga berasal dari Almamater yang menyandang nama besar beliau, seperti yang saya tampilkan pada setiap bio semua akun sosial media yang saya ikuti. Malam sebelum mengikuti casting, saya juga menyebarkan informasi kepada rekan-rekan alumni Universitas Bung Hatta, sambil berharap ada yang ikut.

Alasan lain selanjutnya bagi saya adalah rasa ingin tahu dan melihat langsung proses sejak awal bagaimana film ini diproduksi sejak dari pemilihan pemain yang terlibat. Tentu saja  sampai filmnya ditayangkan saya akan tetap memantaunya. Bahkan saya sudah punya ide untuk buat acara nonton bareng khusus bersama rekan-rekan Alumni Universitas Bung Hatta saat gala premier nanti. 🙂

Dari mengikuti casting ini, saya mendapat banyak informasi, salah satunya jadi mengetahui bahwa Dante Sinema  sebagai PH yang menyelenggarakan casting sekaligus yang akan memproduksi filmnya. Selanjutnya ada Bunda Christine Hakim bertindak sebagai orang yang langsung mensupervisi produksi filmnya. Saya rasa kita sangat mengenal siapa beliau. Hal inilah yang membuat saya yakin bahwa proses produksinya akan berjalan baik dan lancar sesuai harapan. Sementara itu sudah dipilih Edwin Manulang yang akan berperan sebagai tokoh utama Bung Hatta, begitu info yang saya tangkap. Informasi lebih lanjut bisa kita ikuti di official website  www.hattathemovie.com

Continue reading Pengalaman Pertama Ikut Casting

Belajar dari Buah-buahan

Negeri ini sangat kaya akan buah-buahan, berbagai macam warna dan rasa.
Kita sebenarnya bisa mengambil pelajaran dengan mudah dari buah-buahan itu.
Bila buah belum matang dan belum saatnya dipetik, membiarkannya matang adalah cara terbaik agar kita dapat menikmati cita rasanya. Walau terkadang disaat kematangannya ada ulat buah yang mencoba menggerogotinya. Kita masih bisa menyingkirkan bagian yang dimakan ulat, lalu menikmati bagian besar yang masih bagus tersisa.
Adanya ulat terkadang menjadi tanda bahwa kualitas buah itu memang lebih baik.
Buah yang ranum, tak dimakan ulat tentu lebih nikmat.
Kadangkala ada buah yang terlanjir dipetik sebelum matang. Hanya sedikit yang berasa manis, kebanyakan akan terasa pahit, kelat, asam bahkan bisa sangat hambar. Walaupun ada cara lain untuk mematangkannya dengan diperam. Tetap saja rasanya tidak sebaik saat buah matang dipohonnya.

Hikmahnya : yang matang itu lebih baik, daripada yang dipaksa matang (karbitan).

Yulef
Jkt, 27 Maret 2015

Posted from WordPress for Windows Phone