Kritik Pengelolaan Wisata di Kerinci (2)

 

Setelah kurang puas di Spot Wisata Aroma Peco seperti yang saya tulis pada tulisan bagian pertama, kami segera bertolak melanjutkan niat awal Silaturrahmi keluarga ke Sangir Tengah. Menyadari hari masih terlalu pagi, ketika melewati Kersik Tuo kami memutuskan untuk melewati persimpangan dan meneruskan perjalanan menuju spot wisata berikutnya yaitu Air Terjun Telun Berasap, di Letter W.

Tidak jauh berbeda kesan awal ketika kami sampai dilokasi. Kok bisa ya, tempat wisata yang sudah bertahun-tahun dikelola, sampai sekarang belum mempunyai tempat parkir khusus pengunjung yang nyaman? Tidak tampak perubahan signifikan, padahal kawasan wisata ini persis di jalur utama Kerinci – Padang via Muaro Labuh. Wal hasil kami hanya bisa memarkir kendaraan dipinggir jalan ๐Ÿ™‚

Di pinggir jalan ini berderet beberapa warung nasi dan beberapa warung makanan ringan. Tetapi masih juga belum tertata sehingga terlihat nyaman.
Sebelum memasuki gerbang utama kawasan air terjun, kami membeli makanan ringan dan jagung rebus, rencana buat di makan bersama sambil menikmati suasana pinggir air terjun.
Di pintu gerbang loket tiket masuk kembali kami menemukan ketidaknyamanan lain. Rupanya setelah tiket dibayar lunas, potongan tiket diambil kembali oleh petugas loket lalu langsung disobek saat itu juga, jadilah bertebaran potongan tiket yang nyaris menutupi badan jalan di gerbang itu. Dimana tempat sampahnya? Apakah cara begini hanya untuk menunjukkan ramainya pengunjung masuk? Benar-benar tidak nyaman dilihat.

Continue reading Kritik Pengelolaan Wisata di Kerinci (2)

Advertisements

Penukaran Uang Logam di Monas

Beberapa foto di atas saya ambil seputaran kawasan “Lenggang Jakarta”, monas tanggal 24 Juni 2015.
Mendapat informasi dari media online bahwa ada layanan penukaran uang oleh Bank Indonesia untuk masyarakat, saya menjadi tertarik untuk datang melihat.
Kesengajaan saya untuk datang ke sana secara langsung sekaligus karena ingin ikut menukarkan sedikit uang Logam yang saya “koleksi”. Iya, saya termasuk orang yang kurang suka membawa yang Logam di kantong celana. Selain suara gemericing yang bikin risih, juga bobotnya yang berat yang kurang saya sukai. Ya, kalau cuma sekeping dua keping tidak masalah, membawa dengan banyak keping itu yang menjadi masalah serius pada penambahan beban, hehehe…

Cerita saya saat penukaran di monas

Satu tahun terakhir, Uang Logam berbagai nilai nominal pecahan saya “koleksi” dalam sebuah “Bakul Bambu” ukuran mini. Nah, sewaktu penukaran di monas Bakul ini saya bawa beserta isinya yang akan saya tukarkan.
Karena saya datang lebih pagi, kawasan monas masih belum banyak pengunjungnya. Di lapangan Lenggang Jakarta terlihat empat Mobil dari Bank yang berbeda, berjarak sekitar 30 meteran depan jejeran Mobil itu ada tenda dan kursi yang ditempati oleh masyarakat yang antri untuk penukaran uang.
Memasuki area ini saya berpapasan dengan Pak Polisi yang menenteng senjata lalu terjadi dialog singkat dan saya diarahkan ke tenda nomor dua dari kiri, di depannya terlihat Mobil Bank Syariah Mandiri. Sampai di sini saya bertemu lagi dengan Pak Polisi yang lain, juga dengan senjata ditangannya. Setelah berbincang sebentar, saya diarahkan bertanya langsung dengan Pegawai BI yang berdiri tepat di depan kami.
“Maaf Pak, Saya tidak melihat antrian penukaran uang logam apakah masih bisa?” Tanya saya membuka pembicaraan.
“Iya dek, masih bisa. Tapi ini khusus antrian penukaran uang kertas. Untuk penukaran uang Logam, coba ke saung/pondok bagian belakang sana” kata bapak yang dari BI sambil mengarahkan saya.
Saya langsung menuju ke arah yang ditunjukkan oleh bapak tadi dan ternyata benar. Saya tidak perlu antri terlalu lama karena langsung dipersilakan oleh petugas.

“Selamat pagi, pak. Ada yang bisa kami bantu?” Sambut salah seorang petugas dengan ramah.
“Iya, Selamat pagi. Saya mau tukar uang logam” Jawab saya singkat.

“Mohon maaf pak, uang logamnya harus dari masyarakat” ” jawab beliau.

“Iya, saya kan masyarakat juga”, jawab saya sambil senyum โ˜บ

“Oh, Bapak bawa uang logamnya?” Tanyanya lagi. Mungkin kurang yakin dengan “penampilan masyarakat” saya. ๐Ÿ˜†

“Iya dong, ini….” jawab saya meyakinkan bahwa saya memang “masyarakat”, sambil menyerahkan “Bakul Bambu” berisi uang logam koleksi.

“Apaan ini…?” Tanyanya setengah kaget ๐Ÿ˜ฒ melihat bakul yang saya sodorin.

“Ini uang logam yang mau saya tukarkan” jawab saya sambil membuka bakul.

Melihat isi bakul benar-benar uang logam, baru bapak ini lega ๐Ÿ˜Œ dan senyum-senyum โ˜บ sendiri.

“Hehee,… Maaf pak, ini celengan saya” saya menambahkan.

“Baik, mari kita hitung bersama” ajak bapak-bapak yang di depan saya.

Sambil menghitung, saya menanyakan maksud dari pengumpulan uang logam ini. Sebab Bank menerima semua jenis uang logam yang berlaku baik yang masih baru maupun yang sudah lama.

Kamipun menghitung dan memisahkan sesuai nominalnya. Setelah penghitungan selesai ๐Ÿ, sayapun menerima tukarannya dalam bentuk pecahan uang kertas baru dengan jumlah nominal yang sama. ๐Ÿ˜ค

Walau agak sedikit kecewa, dari informasi yang saya baca, uang logam akan ditukarkan dengan kartu uang elektronik (e-money), karena kehabisan saya hanya dapat bagian uang kertas saja.

 

 

 

Kantor Pos “Titik Nol”

Alhamdulillah, hari ini adalah kali pertama sekaligus pengalaman pertama saya menggunakan jasa Kantor Pos dengan kode 10000 untuk mengirim paket dan dokumen.

Sebelumya saya memang beberapa kali mengirimkan dokumen dan Kartu Anggota AGTIKKNAS (KTA) ke berbagai wilayah seluruh Indonesia melalui kantor pos dan jasa ekspedisi lain, dua kantor pos yang sering saya kunjungi beberapa waktu terakhir adalah Kantor yang berada di jalan Pemuda Jakarta Timur dan kantor pos kecil di Komplek UI Salemba. Sekitar lima tahun yang lalu saya masih sering bolak-balik bayar tagihan telepon pascabayar dan cicilan motor di kantor pos kawasan industri mm2100 dengan kode pos 17520. Tapi mungkin semua itu masih terbilang hal biasa, belum ada yang begitu istimewa.

Momen hari ini saya anggap istimewa dan luar biasa karena ternyata, tanpa diniatkan tujuan ini sebelumnya, bahkan saya menyadarinya disela-sela menunggu giliran dalam antrian. Heiyy, Yulef, sadarilah bahwa anda berada disuatu tempat bersejarah, disinilah yang disebut Kantor Pos Utama, mungkin inilah kantor pos yang pertama dibangun pada masa kolonial dulu. Lihatlah disekelilingnya. Sekitar 200 meter ke arah barat ada Masjid Istiqlal, diseberang jalan arah selatan ada lapangan banteng, tepat samping utara ada gedung Dewan Kesenian Djakarta, kalau ke utara lagi ada Paser Baroe 1820. Arsitektur bangunan Masjid dalam komplek kantor pos terlihat tempoe doeloe.

Hmm, kalau begitu izinkan saya menyebutnya dengan Kantor Pos “Titik Nol”, karena dari sinilah dimulai hitungan penomoran kode pos seluruh Indonesia. Coba perhatikan kode 10000 (angka satu yg di depan)

Tiba-tiba saya jadi flashback ke masa silam, teringat sekali bahwa Kode Pos yang sering saya tulis sewaktu SMP dulu adalah bernomor 37162, ketika SMA saya sering mengirim surat dengan kode pos 37111, artinya saya sekarang sudah menemukan jawaban pertanyaan waktu SMP dulu, kira-kira pertanyaannya seperti ini “dimana kode pos angka satu?” Alhamdulillah sekarang terjawab sudah….. ๐Ÿ™‚ Ditempat sahabat, berapa kode posnya ?

Sebagai catatan sejarah untuk saya secara pribadi dan ekspresi rasa senang saya dengan momen ini, saya langsung mengabadikan beberapa foto dan menuliskan status di Facebook, sekaligus check-in location (*huuh lebayy). Rasanya tidak berlebihan, karena selama ini saya hanya lalu lalang saja sekitar kantor ini, pun saya yakin banyak diantara teman yang sama-sama dari daerah dan sudah lama berada di Jakarta tapi belum mengalami momen seperti ini ๐Ÿ™‚ Nyok mari, mumpung masih di Jakarta.

Posted from WordPress for Windows Phone

Perpustakaan TMII dimana ?

Sahabat,

Alhamdulillah, siang ini saya berhasil keliling Indonesia dalam waktu 15 menit saja ๐Ÿ™‚
Iya lho, Indonesia yang saya maksud adalah miniatur Indonesia (TMII). Saya bersama Om Jay kembali ke Taman Mini dalam rangka persiapan acara Intip Buku tanggal 26 Oktober 2014.
Masuk melalui pintu 2 TMII, membuat kami harus memilih mengikuti jalan memutar “berkeliling Indonesia” untuk sampai ke Perpustakaan TMII yang menempati lantai satu gedung pengelola TMII.
Luar biasa… Ini kali pertama saya masuk ke dalam perpustakaan TMII, begitu sampai di dalam saya merasakan suasana yang berbeda, melihat ruangan yang ditata lebih modern dan koleksi buku-buku yang terpajang rapi di atas rak.
Ada ruang baca yang luas, dibuat bernuansa santai.
Sangat tepat, tempat ini sangat pas alias matching sekali dengan Acara Intip Buku KSGN ketimbang rencana venue yang dipilih sebelumnya.

Ada ribuan judul buku yang terpajang di rak, tersusun rapi mengikuti standard baku perpustakaan, sementaraย sekitar 7.619 judul terdiri dari 17.277 eksemplar, koleksi audio visual terdiri dari DVD 178 judul tentang tari-tarian daerah dan budaya, 236 Judul Kaset Audio/ Tape, 685 judul CD koleksi foto-foto tentang budaya Indonesia. bahkan digitalisasi katalog sudah dimulai. Padahal perpustakaan ini terbilang masih baru. Saya mengambil foto piagam peresmian yang ditanda tangani oleh Kepala Perpustakaan Nasional RI, terlihat di sana bertanggal 2 Juli 2012.

Perpustakaan ini sangat sayang untuk tidak dikunjungi, karena sebagian besar koleksi buku-buku disini akan melengkapi pengetahuan dan wawasan kita akan khasanah budaya Indonesia. Ada banyak buku yang menjelaskan sejarah/cerita anjungan-anjungan yang ada di TMII beserta budaya-budaya yang berhubungan dengannya. Ada buku-buku cerita rakyat yang melegenda, tentang agama dan sebagainya.
Berikut foto-foto yang sempat saya abadikan :

Posted from WordPress for Windows Phone

Diferensiasi, Kekuatan Warung Ummat

Pagi ini saya memilih tempat sarapan menyantap kue-kue ringan di Terminal Blok-M. Kebetulan saya ke Blok-M dengan moda transportasi kebanggaan DKI Jakarta, Bus TransJakarta.
Begitu berhenti di halte terakhir TransJakarta, halte Blok M, pintu keluarnya langsung mengarah menuju lobby terminal yang terletak di bawah terminal melalui sebuah tangga. Nah tepat diujung tangga ini, kita akan bertemu sebuah warung makanan jajanan kue-kue ringan. Dari plangnya tertulis jelas “Warung Ummat”, letaknya paling pojok, ukurannya hanya sekitar 2×2 meter persegi saja.

Tiap kali saya ke Blok M, warung ini menjadi salah satu tempat favorite saya ๐Ÿ™‚
Warung ini agak berbeda dengan warung-warung lain di sekitarnya, setidaknya warung ini dan warung sebelahnya saja yang menawarkan kue-kue, yang lain sebagian besar menawarkan dagangan baju, dan aksesoris. Menurut bahasa teman saya yang lagi mengembangkan bisnisnya, hal ini bisa disebut sebagai diferensiasi produk yang ditawarkan.

Tempatnya yang strategis menjadi salah faktor warung ini selalu ramai pembeli, faktor lain adalah banyaknya pilihan menu kue yang ditawarkan, berbagai macam minuman ringan botol juga tersedia untuk menemani agar tidak keselak saat menikmati kue-kue ๐Ÿ™‚
Harga yang relatif sangat murah, dibarengi dengan penjual yang ramah adalah faktor yang juga sangat menentukan menurut saya. Tadi pagi, seorang bapak-bapak di sebelah saya yang curhat tidak bisa ikut upacara 17-san di Monas, beliau hanya membayar Rp. 12.500,- saja untuk 6 potong kue berbeda ditambah 1 minuman botol teh S***o, cukup murah untuk ukuran biaya hidup di Jakarta.

Bahkan jauh lebih murah dari ongkos bis Damri, jurusan Bandara Soekarno Hatta – Blok M. Silahkan buktikan dech, sahabat yang dari luar kota misalnya yang datang ke Jakarta dengan pesawat, naik saja Bis Damri ke Blok M, begitu sampai, coba turun ke lobby hanya beberapa langkah sudah bisa menemukan warung ini, harganya pas untuk kantong sahabat backpacker.

Melalui pengamatan singkat saya pagi ini, banyak pembeli yang singgah disini memilih jenis kue “Risoles Mayonaise Smoke Beef”, hal ini mengingatkan saya pada Komunitas Blogger yang juga berulang tahun hari ini, Komunitas Bloggerbekasi atau BeBlog, Selamat Milad 5 Tahun BeBlog dan selama ulang tahun juga buay Pak Aris Heru Utomo, Ketua BeBlog yang lagi tugas di negeri Tirai Bambu. Dulu waktu rapat-rapat kegiatan ada yang sering membawakan risoles seperti ini. Ini dia bloggernya, Mbak Irma Susanti ๐Ÿ™‚

 

Posted from WordPress for Windows Phone

Kritik Pengelolaan Wisata di Kerinci (1)

Taman Wisata Aroma Peco Kerinci,
Sumber : http://panoramakerinci.blogspot.com

Perjalanan kami pagi ini (pen, hari kedua Idul Fitri 1433 H) ke Kayu Aro sangat lancar, tidak terlihat kepadatan lalu lintas seperti dulu saat momen pada hari yang sama, kami terhenti di Aroma Peco, sebuah taman dan danau tempat wisata alam yang terletak di tengah kebun teh kayoe aro sekitar 5 km selepas Bedeng VIII tempat pabrik teh berdiri, dulu tempat ini sangat ramai dikunjungi wisatawan baik lokal maupun mancanegara, seingat saya beberapa tahun lalu tempat ini dikelola oleh PTPN VI.

Continue reading Kritik Pengelolaan Wisata di Kerinci (1)