Kritik Pengelolaan Wisata di Kerinci (1)

Taman Wisata Aroma Peco Kerinci,
Sumber : http://panoramakerinci.blogspot.com

Perjalanan kami pagi ini (pen, hari kedua Idul Fitri 1433 H) ke Kayu Aro sangat lancar, tidak terlihat kepadatan lalu lintas seperti dulu saat momen pada hari yang sama, kami terhenti di Aroma Peco, sebuah taman dan danau tempat wisata alam yang terletak di tengah kebun teh kayoe aro sekitar 5 km selepas Bedeng VIII tempat pabrik teh berdiri, dulu tempat ini sangat ramai dikunjungi wisatawan baik lokal maupun mancanegara, seingat saya beberapa tahun lalu tempat ini dikelola oleh PTPN VI.

Kabar terbaru yang saya terima, Taman Wisata ini sudah beralih pengelolaannya ke pihak pemerintah daerah. Belum jelas apakah informasi ini benar atau tidak, sayangnya saya belum sempat menelusuri lebih lanjut. Bila benar, satu sisi saya sangat bersyukur karena terlihat keseriusan pemerintah dalam upaya memajukan sektor wisata dengan mengambil alih aset-aset wisata daerah dari pengelolaan swasta. Sisi lain hal ini sekaligus momen baik bagi saya melakukan otokritik dan berpendapat dalam kapasitas sebagai putra daerah yang mencintai daerah kelahirannya.

Yah, begini ceritanya. Penasaran dengan tempat ini, kami memutuskan untuk singgah menikmati keindahannya. Hamparan kebun teh yang luas dan hijau di sekeliling taman ini seolah barisan pengawal kerajaan yang berpakaian rapi, gagah dan seragam. Tak salah bila pikiran kita membayangkan kalau daerah kerajaan yang di kawal tersebut seharusnya tampak lebih rapi dan indah. Lama di perantauan juga membuat rasa penasaran kami bertambah kuat untuk menyinggahi. Kami sempat mengambil beberapa foto sesaat sebelum masuk area.

Begitu memasuki area, apa yang kami dapatkan ternyata sebuah “kekecewaan” yang terasa berat untuk diungkapkan, mulai dari melihat kusamnya gapura dan kios tiket, sudah tergambar kondisi di dalam sana. Saya menyeletuk, “Rasanya terakhir kali saya mengunjungi tempat ini 17 tahun lalu, tidak ada perubahan dari gapura ini, apakah ini bisa dikategorikan sebagai candi ”.

Benar saja, begitu kami memasuki area taman ini, tidak terlihat petugas taman wisata berbaju khusus misalnya atau semisal sebuah kantor pengelola yang menawarkan bantuan informasi atau sekedar menawarkan tiket, kami hanya disambut para pedagang kaki lima yang sedang menyiapkan dagangan mereka membuat tenda-tenda tidak seragam dan tidak teratur. Aah sudahlah, mungkin kami datang terlalu pagi 🙂

Kami langsung berkeliling menapaktilasi rute-rute 17 tahun lalu. Perbedaan drastis sangat terasa, taman sekeliling danau seperti tidak terawat, rumput liar mengisi jalan setapak, pondok-pondok santai pinggiran danau yang berlumut sampai danau yang dipenuhi rumput dan enceng gondok menambah suramnya taman wisata ini. Astagfirullah,… kemanakah para pengelola..? seketika itu kekecewaan memuncak. Kenapa taman dan danau yang seharusnya indah dan rapi ini bisa terbangkalai ? Miris bila pernyataan ini benar : menyerahkan pengelolaan ke pemerintah daerah = menyerahkan ke alam, pengelolaan secara alami, tidak membutuhkan perencanaan dan campur tangan manusia. Fakta dan Kondisi lapangan sangat berbeda dengan testimoni yang tersebar di internet. Bagaimana promosi wisata bisa beranjak maju ? Sebagus apapun brosur dan presentasi dibuat, kalau realita di lapangan masih jauh dari harapan serasa mubazir dan sia-sia saja.

Kami membayangkan, di tempat seharusnya sudah dibangun semacam waterboom, kios-kios pedagang yang permanen dan tertata rapi, taman-taman yang segar dan menyegarkan. Pengelola yang profesional, bertanggung jawab dan terampil.

Beberapa foto sempat kami ambil dari tablet milik adik saya, namun belum sempat saya mengkopi file-filenya dan terlebih lagi saya merasa tidak berani menampilkannya. Cukuplah menjadi bahan koreksi dan introspeksi pihak terkait yang sempat membaca tulisan ini.

Tidak betah berlama-lama di sini kami melanjutkan perjalanan, sebelum mampir ke tempat tujuan utama, kami memilih berkunjung ke tempat wisata yang lain yang tidak begitu jauh ada dua tempat wisata lagi yang masuk dalam catatan saya ketika itu . Cerita tentang dua tempat ini Insya Allah saya tuangkan dalam artikel terpisah Kritik Pengelolaan Wisata di Kerinci berikutnya.

Sahabat Pembaca, artikel ini ditulis sebenarnya salah satu kelanjutan dari cerita perjalanan pulang kampung sekitar 3 bulan yang lalu, mudik Idul Fitri 1433 H. Sekali ini saya bercerita tentang satu kesan yang mungkin kurang populer, walau terkesan curhat tapi dibalik itu percayalah, ada pesan yang ingin saya sampaikan. Bila ada sahabat yang mempunyai cerita dalam pandangan berbeda atau bantahan tentang ini dipersilahkan .. 🙂

Advertisements

One thought on “Kritik Pengelolaan Wisata di Kerinci (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s