Posted in Uncategorized

Membaca Dan Menulis Sahabat Baik

Tiba-tiba hari ini saya sangat ingin bercerita tentang Pelajaran Bahasa Indonesia. Berawal dari membaca artikel “Kenapa Kita Tak Bangga Dengan Bahasa Indonesia?” yang ditulis oleh Om Jay dalam blog beliau yang hebat http://www.wijayalabs.com.  Saya jadi terbawa kembali teringat masa lalu saat-saat saya mulai membaca, menulis lalu menuturkan Bahasa Kesatuan yakni Bahasa Indonesia.

Membaca dan menulis adalah dua sahabat baik yang selalu setia menemani setiap orang yang pernah berstatus murid, pelajar, siswa dan mahasiswa bahkan mereka yang belajar dari kehidupan dan alam pun secara tidak sadar juga ditemani oleh sahabat baik tersebut. Bagi yang mengenyam pendidikan formal di sekolah, membaca bagi mereka adalah membaca buku-buku pelajaran kemudian menulis essay, jawaban dari tugas-tugas yang diberikan. Bagi yang belum punya kesempatan mendapat pendidikan di jalur formal, mereka belajar membaca kehidupan dan menuliskannya kembali dalam impian dan harapan.

Sekitar tahun 1986,  saya mulai mengikuti pendidikan di Sekolah Dasar dalam status Murid SD No. 69/III Koto Beringin, saya sangat berterimakasih karena dididik dan diajarkan membaca, menulis dengan benar dan baik. Sungguh sangat bermanfaat apa yang telah diajarkan dulu. Saya berdoa semoga berkah manfaatnya terus mengalir untuk Guru-guruku yang berjasa memberikan ilmunya dengan ikhlas  sampai akhir zaman nanti.

Saya teringat, pelajaran Bahasa Indonesia kalimat-kalimat seperti berikut sangat hafal bahkan sampai saat ini :

“Ini Budi” , “Ini Wati”, “Budi adik Wati”, “Wati kakak Budi”, “Itu Bapak Budi”, “Ibu Budi mencuci di sumur” , “Budi pergi ke sekolah”, “Siapa kakak Budi?”, “Wati menyapu halaman”, “Iwan bermain di halaman”, “Paman dan Bibi pergi ke pasar”.

Bagi yang mengikuti Pendidikan Sekolah Dasar tahun 80-an sudah tidak asing lagi dengan kalimat-kalimat tersebut.

Sumber : Kompasiana.com

Selain membaca, menulis diajarkan dengan baik oleh guru Bahasa Indonesia. Dari menulis huruf per huruf, sampai menulis dengan huruf sambung (dulu kami menyebutnya dengan huruf tali). Beruntung saya mendapat pelajaran dari guru-guru yang sabar, sehingga fondasi membaca dan menulis yang beliau ajarkan tanpa terasa ternyata sudah sangat berlipat-ganda efeknya sampai saat ini.

Saya termasuk orang yang paling semangat bila diminta untuk membaca oleh Bapak atau Ibu Guru. Alhamdulillah kebiasaan dan semangat membaca terbawa sampai saat ini. Mencari buku bacaan hingga mengoleksinya menjadi hobi tersendiri.  Hasil koleksi dicicil membacanya.

Kebiasaan membaca sejak dini saya sadari berpengaruh dalam pendidikan yang saya lalui sampai lulus dari kuliah. Di dunia kerjapun kebiasaan membaca itu mengantarkan saya pada banyak kemudahan.

Author:

Mahasiswa Pasca Sarjana Fakultas Ilmu Komputer Universitas Putra Indonesia "YPTK" Padang.

5 thoughts on “Membaca Dan Menulis Sahabat Baik

    1. Terima kasih juga sudah berkunjung dan komentarnya Ibu Elly, Salam Kenal.
      Sebenarnya tulisan ini masih belum komplit, setahu saya semalam saya simpan di draft, saya kaget karena sudah ada komentar.

      Salam

    1. @sepoigiri, maksudnya di upload kali ya.. ? Mohon maaf, saya sebatas ingat-ingat saja. Untuk materinya sendiri belum saya temukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s